Cerita Pendek
Ayah Jangan Pergi
Pagi
ini, fatih terbangun dari mimpi indahnya setelah mendengar dering alarm dari
sudut ranjang tidurnya. Hawa dingin menyergap, dan membuatnya mengetatkan
pelukan tanganya didada. Segera ia beranjak dari tempat tidurnya. Dari balik
jendela rumahnya, terlihat embun di balik rerimbunan ilalang. Burung-burung
berkicauan di antara pucuk-pucuk pohon cemara. Dari luar kamar, ibu terus
menggerutu karena minyak tanah yang habis, gula yang tak lagi manis sehingga
lekas habis. Segera, diraihnya handuk bermotif tim bola kesayanganya, sambil
bersenandung, ia berlari kecil menuju kamar mandi.
Selepas
sarapan ia segera pamit kepada ayah ibunya. Entah kenapa, perasaannya dari tadi
pagi tak enak. Hari ini ayah tampak pucat. Beliau memang mengidap penyakit
asma, namun kini sudah tak pernah kambuh.
Dikayuhnya
sepeda ontel pemberian ayahnya, di sekolah ia lebih banyak melamun. Shinta,
sahabatnya dibuat heran melihatnya. Saat shinta bertanya, fatih hanya
menggeleng.
Tak
lama kemudian, ia mendapat kabar dari wali kelasnya bahwa ayahnya sedang sakit.
Ia berlari meninggalkan sekolahan dan mengayuh sepedanya dengan kencang.
Kemilau sinar emas sang mentari begitu terasa, kulitnya terasa terbakar,
keringat pun bercucuran dari tubuhnya. Namun ia terus mengayuh sepedanya dan
tak memperdulikan sekitarnya,
Suasaa
rumah sakit begitu sepi, ia berlari menuju kamar inap ayahnya. Namun yang
dilihatnya hanyalah sesosok tubuh seseorang yang terbujur kaku diatas ranjang
rumah sakit. Suara tangisan memecah keheningan rumah sakit. Ia hanya mampu
berbisik lirih di samping ayahnya, “jangan pergi.... Yah”
Komentar
Posting Komentar